07 July 2018

Tentang Maaf dan Memaafkan


( image : Pixabay.com)


Alhamdulillah, bertemu lagi kita di bulan Syawal tahun ini. 
Rasa bahagia dan semangat  menggapai hari kemenangan masih kental terasa, ya.
Selamat untuk yang berhasil melangsing dan selamat juga untuk yang dapat bonus melebar. Gakpapa, biar saya ada temennya. Masih banyak waktu untuk diet, kok. Bisa mulai besok, kan?
*besok aja terooos! >.<
Yang terpenting selama bulan Ramadan bisa menjalankan ibadah dengan lancar. Itu aja udah alhamdulillah bangeet.

Mumpung masih syawal, kita ngobrolin soal maaf memaafkan, yuk..  
Pernahkah teman-teman merasa sulit untuk memaafkan?

Saya yakin sebagian ada yang bisa memaafkan dengan mudah, dan sebagian ada yang perlu waktu untuk melakukannya. Kayaknya sih, tergantung berat atau ringan kasus yang menyertainya. *cieee, kasus ;D

Kata orang, memaafkan itu mudah. Melupakannya yang sulit. Hm, sepertinya ada benernya juga sih. Memaafkan dengan ikhlas memang butuh kebesaran hati seluas samudera.
Karena, ketika kita ingin memaafkan, selalu  ada waktu di mana godaan seolah menari-nari di depan mata. Teringat lagi rasa sakit yang pernah tertancap. Perih, luka.. duh, pokoknya segala rasa yang membuat kita jadi setengah hati untuk memberi maaf.

(Ngaku deh, kadang saya juga begitu..)

Biasanya kalau udah begini, selalu pasrah. Biarlah waktu yang menyembuhkan. Entah itu butuh waktu setahun atau dua tahun, terserah. Sampai nanti lupa sendiri.
Padahal, kalau dipikir-pikir lagi.. ngapain juga dibawa perasaan banget ya. Yang sudah terjadi, kan nggak bisa diulang lagi. Mengulang-ngulang kisah lama hanya membuat hati kita sakit, pastinya akan mendatangkan berbagai akibat. Diam-diam bisa stress, karena menyimpan rasa kecewa dan marah di dasar hati yang lama-lama bisa jadi penyakit. Jatuhnya jadi ngerugiin diri sendiri.

Tapi, apa akan semudah itu, bila masalah yang dihadapi agak berat?

Hm, saya jadi ingat, suatu ketika saya pernah merasa sangat marah dengan seseorang. Udah lama banget sih. Sekitar separuh umur saya, bahkan lebih (Pura-pura nggak tau aja, umur saya berapa ya ;)

Saya nggak melakukan apa-apa. Cuma kesel aja dalam hati. Sampai bertahun berlalu, saya tetap menyimpan rasa itu. Sampai suatu hari saya dapat kabar bahwa orangnya udah nggak ada, untuk selamanya.
Sesaat saya terdiam dan merenung. Selama itukah saya marah?
Akhirnya saya memutuskan untuk memaafkan semua kesalahannya. Saya buang semua rasa marah yang terpendam. Suka atau nggak suka masalah itu sudah menjadi kisah lama. Ajaibnya perasaan saya jadi lega.
Ya, anggap aja Allah mengirimkannya sebagai ujian buat saya..

Hm, balik lagi ke obrolan di awal ya..
Trus, gimana dong caranya supaya bisa dengan mudah memaafkan?

Hm, saya juga masih terus belajar, sih. Baiknya memang pelan-pelan belajar untuk melupakan. Sesakit apapun kata-kata atau perbuatan yang pernah dilakukan orang kepada kita, ingat aja manusia memang nggak ada yang sempurna. Manusia memang tempatnya salah. Kadang ada masanya seseorang jadi kehilangan akal sehat, lagi PMS dan nggak sadar perbuatannya menyakiti orang lain. Kehilangan kontrol diri dan mengikuti hawa nafsu mengumbar amarah. Merasa puas bila lawannya terpojok. Hufft.. *tega aja hatinya :(

Nggak mudah memang. Tapi mempercepat proses melupakan bisa diusahakan. Sayang banget, kan kalau waktu kita terbuang hanya untuk mengingat-ingat rasa sakit. Hidup cuma sekali. Banyak-banyak lah mengenang yang manis-manis. Bukannya nggak mungkin, suatu masa nanti justru kita yang berbalik posisinya. Allah maha membolak-balikkan hati. Bisa aja kita tanpa sengaja melakukan hal-hal yang menyakiti orang lain. Bisa aja, kan.. tapi jangan sampai deh, ya.

Hal lain yang bisa kita lakukan adalah introspeksi. Banyak-banyak merenung. Mungkin ada hikmah yang bisa kita petik dari masalah yang terjadi. Misalnya, membuat kita jadi lebih tegar. Nggak mudah baperan atau jadi lebih semangat untuk melakukan hal-hal yang positif. Anggaplah, semua yang terjadi sebagai pelajaran untuk membuat kita menjadi lebih baik.

Berdamai dengan diri sendiri juga menjadi satu cara yang paling ampuh. Kadang, saya suka mendamaikan hati saya sendiri. Hati kita perlu dibujuk. Ibaratnya nih, kalau sebelah kiri ngomong negatif, langsung yang di sebelah kanan membantah untuk berpikir negatif. Lawan terus. Lama-lama bosen deh setannya .. hahahaah. Ya ibaratnya gitu deh.

Tapi, di antara semuanya, yang harus diingat adalah,

 jika Allah saja maha pemaaf, mengapa kita hambanya nggak bisa memberi maaf?

Lebay banget kan jadinya kita!

Kalau udah ingat itu, yakin deh perlahan-lahan rasa kesal akan luntur. Bila memang perlu sedikit waktu, ya nggak apa-apa. Asal jangan lama-lama. Ya kali nggak move on-move on. Capek, laah.. ^^

Trus, gimana kalau kita yang salah?

Ya nggak ada cara lain. Berani lah untuk minta maaf. Berbesar hati untuk mengakui kesalahan dengan tulus akan membawa kedamaian. Selanjutnya? Ya jangan diulangi lagi.. :)

Jadi, ya gitu aja. Buat yang masih susah untuk memaafkan, yuk sama-sama belajar. Percayalah, ketika kita memaafkan, seketika itu juga hati akan terasa lapang. Wajah murung akan berganti dengan senyuman. Nggak percaya? Yuk, dicoba..























4 comments:

  1. Subhanallah... Maaf baru baca.. terimakasih banyak sudah diingatkan yaaa Wayaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama Mbak Tanti sayang :)

      Delete
  2. "sayang banget kalo waktu kita terbuang hanya utk mengingat ngingat rasa sakit, hidup hanya satu kali" jleb bgt nih, betul sekali mba.

    ReplyDelete
  3. Menohok banget ini tulisannya, mbak. Terkadang aku sudah memaafkan tapi nggak pernah lupa. Jadinya agak memberi jarak.

    Terima kasih sudah diingatkan.

    ReplyDelete

Hai komentar kadang-kadang di moderasi untuk menghindari komentar spam ^^
Terima kasih sudah berkunjung ya.. :)