05 March 2024

KETIKA DEMENSIA MENCURI INGATAN YANG DICINTA

 Beberapa bulan tinggal di Pekanbaru dan merasakan bagaimana beratnya menjaga Ibu dengan demensia. membuat perasaan saya turun naik, seperti sedang di roller coaster. Kadang tingkah lucunya bikin saya tertawa, tapi seketika sedih ketika ibu tiba-tiba menjadi marah. Emosi ibu sulit sekali diprediksi.

Dari situlah saya jadi paham, bahwa menjaga orang dengan demensia tidaklah mudah. Diperlukan kesabaran yang luar biasa. Mungkin beberapa teman pernah juga menghadapi situasi seperti keluarga saya.



Demensia bukan hanya memengaruhi kemampuan kognitif saja. Tapi juga mengubah semua  aspek kehidupan dan hubungan dengan orang-orang yang ada di lingkaran terdekatnya. Orang dengan demensia atau disebut juga ODD, memiliki emosi yang cepat sekali berubah. Jika kita tidak menyesuaikan diri, kita akan lelah secara fisik dan juga mental. 


Saya merasakan sendiri  ketika menjaga ibu, saya sering kelelahan karena kurang tidur. Badan rasanya nggak karuan. Sementara ibu bisa begadang semalaman, bahkan pernah selama dua hari, hanya tidur selama 2 jam. Di tengah malam itu, ibu beraktivitas seperti biasa. Makan, berkemas-kemas, melipat baju dan keluar kamar. Bahkan beliau minta dibukakan pintu keluar. Karena baginya tak ada lagi beda siang atau malam.


Dalam kondisi kurang istirahat, fisik ibu yang saat ini sudah 82 tahun, seringkali mudah oleng. Saya menyesal sekali, karena dalam penjagaan saya, ibu pernah terjatuh dan kepalanya membentur meja. Kebayang kan, gimana cemas dan paniknya saya. Ya, kami semua panik dan langsung berkoordinasi tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Kakak saya yang saat itu sedang di Jakarta pun langsung balik secepatnya. Alhamdulillah ibu masih dalam lindungan Allah. Meski memar dan butuh waktu cukup lama untuk kembali pulih.

Itulah sebabnya, dalam menjaga ODD, kitalah yang harus mempersiapkan diri. Apalagi, yang kita jaga adalah orang yang kita cintai. Seperti halnya ibu saya yang sudah membesarkan kami anak-anaknya. Tentunya semua ingin memberikan yang terbaik.

B erikut ini adalah beberapa hal penting yang bisa membantu dalam menghadapi dan merawat orang dengan demensia.

  • Selalu dalam kondisi fit

Seperti  pengalaman saya menyaksikan ibu terjatuh, karena tidak tidur semalaman. Membuat saya merasa bersalah. Andaikan kondisi saya fit, mungkin hal itu bisa dicegah. Makanya buat orang yang menjaga ODD, harus banget istirahat yang cukup. Kita butuh banyak tenaga untuk menjaga dan mengatasi pertanyaan berulang, yang mungkin bisa sampai tak terhitung jumlahnya. 
Sebagai manusia biasa, kadang emosi kita tak selamanya stabil.
Mintalah dukungan dari anggota keluarga lain, agar  bisa bergantian menjaga.

  • Jangan Baper

Di saat menjaga ODD, kita akan selalu dihadapkan dengan situasi yang tak menentu. Apalagi menghadapi kemarahan yang tiba-tiba. ODD tidak suka menerima instruksi. Ibu saya juga tidak suka disentuh. Kalau moodnya lagi jelek, memakaikan baju pun akan jadi masalah yang besar. Rumitkan. Bagaimana mungkin kita bisa menolong tanpa menyentuh? Tapi kitanya harus maklum. Tarik napas, tahan diri. Jangan baper kalau mereka mendadak marah. Terima aja. Soalnya, beberapa menit kemudian, mereka akan lupa.

  • Rajin Mencari Info Tentang Demensia

Saya menyadari bahwa yang terpenting dari semuanya, adalah kita memahami apa yang sedang kita hadapi. Dengan banyak mencari informasi, kita akan lebih siap. Pahami  apa yang bisa membuat ODD ketrigger hingga emosinya muncul dan bagaimana cara menghadapinya.

  • Memahami Apa yang disukai

Orang dengan demensia mudah sekali merasa bosan. Kita harus punya banyak cara untuk mengalihkan perhatiannya. Di awal-awal saya sempat merasa frustasi karena komunikasi yang nggak nyambung. Lalu, anak saya menenangkan saya. Setelah itu kami mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dengan mengajaknya menulis di papan tulis, mengupas bawang bahkan mengajaknya merangkai bunga. Ternyata ibu senang sekali. Senyumnya meluluhkan hati kami.

  • Cerita Tentang Kenangan di Masa Lalu

Ibu saya senang sekali kalau diajak cerita tentang kisahnya di masa lalu. Ikut turnamen voli, juara ngaji, jago nyanyi. Pokoknya semua hal tentang masa lalu. Tentang saudara, orang tua dan juga adik-adiknya yang sudah berbeda alam. (FYI, Ibu hanya tinggal bertiga dari 7 orang kakak adik)
Untuk menyegarkan ingatannya kita bisa menunjukkan foto-foto keluarga  atau apapun benda kenangan. Hal ini akan membuatnya merasa nyaman. 

  • Jangan Sedih Kalau dilupakan

Hiks, ini part tersedih sih. Sebuah fakta tentang ibu, yang lupa dengan sebagian anaknya. Jangankan anak, suami aja ibu sering lupa. Kalau saya sebutkan nama papa, ibu tercenung sejenak. Berusaha memanggil memori tentang suami yang berpuluh tahun mengarungi hidup bersama.

Rasanya sedih sekali mengetahui kalau orang yang dulu menemani atau menantikan kelahiran kita, kini melupakan kita.

Untuk membantu memacu ingatannya, ibu sering saya sodorkan foto keluarga. Tapi ibu selalu nanya, "ini siapa, yang ini siapa, trus yang ini namanya siapa?"

Setelah dikasih tau, ibu akan menatap wajah-wajah yang ada difoto itu lekat-lekat. 

Senyum-senyum, lalu bilang "Nanti foto ini  aku bawa pulang ke rumah, ya.."  

Ibu memang selalu merasa, tidak sedang di rumahnya. Baginya, rumah adalah tempat di mana, Bah, Mak dan adik-adiknya tinggal. Dan itu berpuluh-puluh tahun yang lalu. 


Sedih. Tapi begitulah demensia mencuri ingatan orang-orang yang kita cinta. Satu hal yang perlu diingat, ternyata kita tidak sendiri. Banyak keluarga yang juga mengalami kisah yang sama. Dan berbagi pengalaman membuat kita jadi punya kekuatan untuk menghadapinya.

Saya masih ingat, selama bersama saya, ibu hanya sesekali memanggil nama saya. Nggak masalah sih, kembali lagi harus selalu ingat, jangan baper kalau dilupakan. Nah, yang bikin saya senang, sehari sebelum saya kembali ke Jakarta, ibu memanggil nama saya dengan lantang. Mungkin karena hari itu saya sedang sibuk mengemasi barang-barang, jadinya ibu terus-terusan memanggil saya.

Akhirnya setelah beberapa kali dipanggil, saya datang dan iseng bertanya, 

"Kok ibu tau nama Waya?" 

"Iyalah, tak kan aku tak tau. Kau kan anakku yang baik.." jawabnya.

Whuaaaaa... saya nangiiis! Melipir meraih tisu untuk menghapus air mata yang berlinang.



Merawat orang tua dengan demensia adalah perjalanan penuh tantangan dan menguras air mata. Saya belajar, walaupun mungkin mereka akan melupakan nama kita, mereka tetap bisa merasakan kasih sayang yang kita berikan.Teruslah merawat mereka dengan berjuta-juta kesabaran. Nikmati momen kebersamaan yang masih tersisa. Karena kita tak pernah tahu, kapan kehilangan itu datang.










bm

Hai, terima kasih sudah mampir dan membaca tulisan saya. Have a Nice Day! Salam :)

1 komentar:

Hai komentar kadang-kadang di moderasi untuk menghindari komentar spam ^^
Terima kasih sudah berkunjung ya.. :)

  1. kita tak pernah tahu, kapan kehilangan itu datang (hiya) 😊

    ReplyDelete
avatar
Admin Sejenak Bercerita Online
Welcome to Sejenak Bercerita theme
Chat with WhatsApp