Pages

30 March 2014

Perangi Narkoba dengan Pemahaman dan Kepedulian

          
            Sebagai ibu saya merasakan kekhawatiran yang luar biasa tentang maraknya peredaran Narkoba saat ini. Setiap hari, berita tertangkapnya pengedar, kurir atau pengguna Narkoba di berbagai media, baik di koran, televisi maupun media online membuat ketakutan saya tak bisa di bendung. Kadang dalam hati saya bertanya, apa mungkin presentasi peredaran Narkoba yang tertangkap masih kalah jauh bila dibandingkan dengan jumlah Narkoba yang lolos. Mengingat peredarannya sudah merambah berbagai cara baik itu melalui jalan darat, laut dan udara. Sejauh mana jalan masuk wilayah perairan kita dapat di jaga. Apa saya masih bisa menaruh harapan dan merasa optimis bahwa Narkoba bisa di berantas?
Jujur, saya menaruh harapan besar agar Narkoba bisa musnah dari muka bumi ini.

            Saat ini jumlah pengguna Narkoba semakin hari semakin meluas. BNN memperkirakan ada 4 juta pengguna yang menyerahkan hidupnya pada Narkoba dan masih belum di rehabilitasi. 40 orang meninggal setiap harinya karena penyalahagunaan obat-obatan terlarang ini. Bahkan di perkirakan pada tahun 2015 nanti, pengguna Narkoba akan semakin meningkat mencapai angka 5 juta. Miris ya, melihat angka sebesar itu?
Bukannya tak mungkin teman-teman kita, saudara-saudara kita yang di incar oleh para pengedar ini. Sekarang saja peredaran Narkoba sudah mulai
menyasar ke berbagai golongan. Pejabat tinggi dan artis juga sudah menjadi pengguna. Meski masih bisa di hitung dengan jari. Tapi mungkin juga ini jumlah yang tertangkap saja. Masih banyak pengguna lain yang masih belum terlacak.

           Melihat kenyataan ini, saya kembali merasa ngeri. Bagaimana mungkin orang-orang yang berpendidikan tinggi tidak mampu menolak untuk menggunakan Narkoba. Bila yang berpendidikan saja tidak bisa, bagaimana dengan orang-orang yang secara mental bukanlah orang yang kuat menghadapi masalah seperti remaja yang broken home, pergaulan yang cenderung negatif atau orang-orang yang mudah sekali terpengaruh buruknya lingkungan. Bisa dibayangkan begitu beratnya beban orang tua melindungi anak-anaknya dari jerat Narkoba. Cukupkah pengawasan kita untuk membentenginya? Sekali lagi saya yakin, keresahan saya adalah keresahan Ibu-ibu lainnya juga, di seluruh belahan dunia.

        Ya, memang tak ada jalan lain. Sebagai orangtua yang memiliki tanggung jawab besar hendaknya kita terus mendekatkan diri kepada anak-anak kita. Menjadi teman bagi mereka agar pada saatnya nanti dia tidak mencari orang lain sebagai tempat dia berbagi cerita atau apapun masalah yang sedang dihadapi. Memang ini perlu komitmen yang luar biasa mengingat tidak semua orang tua punya banyak waktu dan bisa melakukan pendekatan yang baik karena setiap karakter anak berbeda. Apalagi dengan tingginya aktifitas dalam bekerja. Seringkali waktu merupakan kendala yang utama. Tapi, niat baik selalu ada jalannya. Komunikasi tetap bisa dilakukan. Kedekatan yang terjalin akan membuat setiap anggota keluarga merasa didukung satu sama lain, hingga saling melindungi. Bila sudah membangun ikatan yang solid dalam keluarga, sudah tentu benteng pertahanan yang kokoh terbangun. 

Selain itu juga harus di sadari juga betapa pentingnya bagi kita untuk memahami dan menambah wawasan sebanyak-banyaknya tentang seluk-beluk Narkoba. Apa akibatnya dan bagaimana cara sindikat mengedarkannya. Bahkan siapa saja yang beresiko menjadi perpanjangan tangan mereka. Bukan rahasia lagi kalau sindikat Narkoba juga membidik Ibu-ibu yang lugu untuk membawa atau menyelundupkan barang haram mereka. Untuk sebagian orang yang silau akan jumlah uang yang di tawarkan, pekerjaan ini menjadi hal yang mudah untuk di lakukan tanpa memikirkan akibatnya.

Sudah saatnya kita peduli segala hal menyangkut Narkoba. Tentang bagaimana mudahnya Ganja, Sabu, Ekstasi, Putaw dan lainnya ada di tengah-tengah kita. Sudah sering terjadi dan tanpa kita sadari tempat pembuatannya malah ada di komplek perumahan. Tak terlihat dari luar dan seringkali tersamarkan. Kita tak bisa lagi diam. Perhatikan lingkungan sekitar. Bisa di bayangkan bila kita mengambil sikap tak peduli. Sama saja seperti menggali lubang di halaman kita sendiri. Tinggal menunggu waktu kapan akan terjebak. Sesulit apapun caranya tetap harus kita tempuh demi membangun benteng dari keluarga dan lingkungan kita sendiri. Semua harus bekerjasama.

Saya juga berharap agar orang tua juga di beri pemahaman baik mengenai bentuk fisik pil ekstasi, ganja dan sebagainya. Saya jadi ingat, ketika saya masih di Pekanbaru dulu, seorang ibu tetangga heran karena tiba-tiba anaknya jadi sangat antusias merawat tanaman yang katanya baru ia dapatkan dari temannya di Aceh. Tanamannya itu di simpan di tempat yang tak terlihat oleh orang lain. Sampai suatu ketika di koran muncul tentang berita tanaman ganja yang sedang marak di liput, Ibu itu baru sadar ternyata 3 pot tanaman yang ada di belakang rumah dan menjadi tanaman kesayangan anaknya tersebut adalah tanaman ganja. Memang masih kecil-kecil. Tapi cukup membuat ia marah besar. Si anak langsung minggat dan lari ketakutan.

Ya, jadi memang sangat penting bagi kita untuk mengenali semua bentuk yang ada sangkut-pautnya dengan Narkoba. Sebagai upaya agar kita tidak mudah di kelabui. Begitu juga dengan pengetahuan tentang ciri-ciri fisik orang yang sudah mengkonsumsi Narkoba. Mewaspadai hal-hal yang tidak biasa pada orang terdekat, saudara, dan tetangga harusnya menjadi pekerjaan kita semua. Bila ada yang mencurigakan, segera laporkan. Satu hal yang sangat penting dari semuanya adalah menanamkan pemahaman bahwa pecandu Narkoba tak selalu berakhir di penjara. Seringkali penjara menjadi alasan mengapa orang takut melaporkan. Sama seperti cerita tentang tetangga saya tadi yang terlanjur marah dan takut anaknya di penjara hingga tak sempat untuk mencaritahu lebih dalam dari mana anaknya mendapatkan tanaman ganja itu. Dan akhirnya anaknya lari dari masalah. Hubungan terputus dan orang tua merasa gagal mendidik anaknya. Inilah pemahaman yang harus kita ubah. Pengguna Narkoba adalah korban yang seharusnya di rehabilitasi. Mereka punya hak untuk melepaskan diri dari jerat Narkoba.

Jadi jangan khawatir, bila kita melaporkan itu sama artinya dengan kita menyelamatkan hidup pengguna tersebut. Mereka masih punya masa depan dan harapan untuk hidup lebih baik. Pemahaman dan kepedulian kita akan menyelamatkan mereka.

Saya dan juga banyak ibu-ibu lain di dunia akan terus berdoa dan berusaha agar Narkoba segera musnah. Agar generasi masa depan nanti menjadi generasi yang benar-benar sehat jiwa dan raga. Sukses, terbebas dari jerat Narkoba.


#IndonesiaBergegas


            

2 comments:

Hai komentar kadang-kadang di moderasi untuk menghindari komentar spam ^^
Terima kasih sudah berkunjung ya.. :)