Pages

29 March 2012

Pujian Buat Sang Ayah

Sakit kemarin berlanjut. Bener lo,  3 hari  aku nggak bisa bangun. Kebayangkan betapa repotnya, banyak pekerjaan terbengkalai. Dari cucian yang menumpuk, setrikaan dan segalanya! kacau..(Eh, tapi untuk urusan makan 100% nggak ada yang kacau...)
Rumah kami memang nggak pake asisten. Semua dilakukan sendiri. Pernah sih, beberapa kali pake asisten, tapi selalu berujung pada ketidakpuasan, dari kerjaan yang nggak beres, suka ngerumpi ke tetangga dan hilangnya barang-barang secara misterius. Terakhir, sang asisten bilang ke keluarganya, kalo dia nggak di bayar selama dua bulan. Masya Allah, kaget banget. Padahal, untuk gaji bulan ketiga aja dia udah kasbon separuh gajinya, waktu gajian bulan kedua. Setelah di kroscek akhirnya ketahuan dia hanya menghindar untuk bayar hutang ke salah satu kakaknya. Halaah-halaaah, urusan keluarga sampe bawa-bawa kita. Ealah, kok malah jadi ngerumpi ya..,hehe.Cape deeh!
Sejak peristiwa itu, kami sepakat untuk nggak pake asisten dulu. Secara perasaan, memang rasanya lebih bebas dan tanpa beban. Untuk saat ini, cukup enjoylah.
Tapi kerasa banget kalo lagi sakit. Nggak punya sodara yang bisa bantuin. Namanya juga hidup merantau. Jadi harus mandiri. *sambil nangis sendiri..,hihiiii
Nah, kejadian sakit selama beberapa hari ini, ternyata menjadi sebuah keuntungan buat hubby. Dengan mengambil alih tugas menyiapkan anak-anak berangkat sekolah, menyiapkan sarapan,( pulang sebentar pas istirahat kantor) nyiapin makan siang dan sepulang kantor nyiapin makan malam, namanya jadi begitu harum di mata anak-anak.
Sambil memeluk aku sepulang sekolah, adek cerita penuh semangat, matanya berbinar-binar.
"wuih maa..,tadi ayah bikin sarapannya enak banget!"
"Emangnya ayah bikin sarapan apa?"
"Roti bakar isi meises sama telor ceplok"
Hehee..., padahal aku juga suka bikin roti bakar. Tapi kok responnya beda ya? *bingung*
"Bekalnya juga enak ma? Fal makan sampe habis."
"Emang ayah bikin bekal apa?" 
"Kentang goreng sama nugget, trus pake saos tomat sachet. Pas mau makan saos tomatnya Fal bikin jadi titik-titik yang banyak di atas kentang. Teman-teman pada ketawa semua. Wah, pokoknya enak ma!" 
Aku tersenyum sambil bingung.
Pujian itu terus berlanjut saat makan siang, makan malam, lalu sarapan besoknya dan makan berikutnya. Selama tiga hari itu, pujian selalu tertuju buat sang ayah. Mulai dari semur buatannya, sup sayur, nasi goreng, semuanya enak. Pujian itu sungguh bernilai. Pujian yang diucapkan dengan mata berbinar dan tulus.
Hm, aku terus berpikir apa sebabnya mereka terus memuji, tentu saja dengan sedikit iri.. ;) Dan aku mengerti, anak-anak suka sekali melihat ayahnya sibuk-sibuk di dapur. Mencurahkan perhatian buat mereka. Ayah yang selama ini selalu sibuk dengan urusan kantor, sekarang bisa membuatkan sarapan dan bekal buat  mereka. Sesuatu yang membuat makanan apapun jadi enak, meises jadi super  lezat , bahkan teh manis pun bisa jadi teh manis yang paling enak sedunia. Saat ku sampaikan pujian anak-anak kepadanya, si ayah hanya tersenyum manis dan sedikit tersipu.. 
Hmm..,gimana nggak senyum manis ya, pujiannya beruntun begitu... :)
Aku aja yang udah terus-terusan bikin sarapan di anggap biasa aja tuh! hehee..
Nah, begitulah cerita yang terjadi kemarin, sekarang aku sudah baikan dan bisa beraktivitas lagi. Ada  sedikit pesan buat para ayah nih, jangan ragu buat ngambil tugas istri ya? Pujian tulus dari anak kita nggak ada tandingannya lho.., pandanglah tatapan mata dan senyuman mereka, rasanya selangit. DIJAMIN! :D


26 March 2012

Episode Sakit

Hm, ini bukan mengeluh. Aku selalu bersyukur atas semua kejadian, dan berusaha memetik hikmah.Tapi ini minggu yang lumayan berat. Kami sekeluarga ganti-gantian sakit. Mulai dari adek sakit panas. Begitu panasnya hilang, muncul bintik-bintik merah di telapak kaki dan tangan. Tapi bukan karena Tom Cat sih, sepertinya alergi. Tapi kasihan, bintik merah itu gatel banget. Harus siap siaga mencegah dia supaya nggak garuk-garuk kakinya.
Lihat deh, kebayangkan gimana rasanya?


 Akhirnya setelah rutin diolesin salep, bintik-bintik itu semakin mengecil dan alhamdulillah tiga hari kemudian adek sembuh.
Besoknya gantian kakak yang panas. Pulang sekolah di depan pintu sudah pasang wajah lemes( eit, emang lemes beneran kok). Langsung dipaksain makan, minum obat dan bobo'. Badannya panas banget, jadi tiga hari bolos sekolah. Untung aja udah selesai UTS.
Alhamdulillah, Sekarang mereka sudah ceria lagi.
Nah, cerita berlanjut. Si ayah ikutan sakit. Lengannya sakit dan nggak bisa di gerakin. Besoknya malah menular ke kepala yang nggak bisa menoleh. Katanya sakit banget. Di kasih counterpain nggak membaik juga. Udah nyoba diurut juga, dua kali bolak-balik malah makin sakit. Aduuuuh, bingung deh!
Si ayah belum kelar, malah aku ikutan  sakit juga. Tadi pagi malah nggak bisa bangun. Seluruh badan sakit kalo digerakin. Ya Allah, kok bisa gini ya?  Tapi, tiduran terus rasanya nggak enak juga, aku paksain buat nulis apa aja, supaya bisa ngelupain rasa sakit. Dengan harapan bisa membuat semangat muncul lagi. Mudah-mudahan kami berdua cepat baikan lagi, kasihan anak-anak. Sepertinya mereka bingung liat kedua orang tuanya sakit secara bersamaan. 
Memang kesehatan itu nikmat Allah yang tak terkira. Satu saja anggota badan yang sakit, rasanya seluruhnya ikutan sakit. Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak. Padahal masih banyak orang yang menjalani rasa sakit yang lebih hebat dari yang sedang menimpa kita. 
Hm, buat yang sehat, jaga kesehatan ya jangan sampai sakit. Dan buat yang sakit, supaya bersabar , seperti yang ku lakukan saat ini. Memohon kesembuhan dariNya, Sang Maha Penyembuh..
  Semoga Allah memberi kita kesembuhan ya? Aamiin :)


13 March 2012

Sahabat Pena

Yuhuuuuu....., ini aku!
Kegalauan kemarin sudah berlalu, sekarang sudah semangat lagi. Nggak apa-apa galau sehari, daripada galau berkepanjangan. Ya, nggak?

Hmm, ada kabar menyenangkan. 
Akhirnya aku berhasil menemukan seorang sahabat lama yang sudah kehilangan kontak sejak bertahun-tahun yang lalu. Jaman sekolah dulu, sekitar tahun 90'an aku rajin banget menjalin pertemanan lewat surat. Sahabat penaku banyak, sampe uang jajan harus di potong untuk beli perangko. Rasanya bahagia  kalo pak pos nganterin surat, terus lari-lari ngambil gunting buat buka surat. Atau segera merobek amplopnya, saat  guntingnya menghilang. ;) 
setelah itu, baca suratnya sambil tiduran,*kaya' di film-film...,hihiiii
Lucunya, dulu aku pake nama Putry sebagai  identitasku. Dasar nggak pedean sama nama sendiri. Nama Puri di ujung namaku, aku ganti. Saat itu nama Puri terdengar aneh. Padahal nama Waya juga lebih aneh. Hahahaha... ya sudahlah, yang jelas dulu aku merasa nyaman dengan nama itu.

Salah satu sahabatku namanya Agus. Lupa nama panjangnya. Hobinya melukis dan menulis. Selalu menyenangkan setiap mendapat kiriman surat darinya.Cerita-ceritanya mengalir dan enak dibaca.  Setengah amplopnya selalu ada lukisan, seperti gambar yang ada di majalah Anita Cemerlang jaman dulu. Kertas suratnya juga selalu penuh gambar. Kalau nulis surat bisa sampai dua halaman penuh. Hmm, meski kehilangan kontak, aku masih tetap ingat padanya, khususnya lukisan-lukisannya itu. Semoga saja dia sukses dengan cita-citanya. Mungkin aja sekarang sudah jadi penulis dan ilustrator ya? ahhh.., semoga!

Sahabat yang lain namanya Tantry Yulia, dulu sekolah di Sekolah Farmasi di malang.
Dengannya juga surat-menyurat berlangsung lama. Tapi akhirnya kehilangan kontak juga. Sampai sekarang aku masih mencari jejaknya di pencarian, tapi belum ketemu. Semoga suatu saat nanti, aku menemukannya lagi..

Ada juga sahabat dari Medan, namanya Agung. Surat-suratan dengannya juga awet, tulisannya rapiiii bangeeet. Kaya' tulisan cewek. Saat itu dia udah kerja. Gaya nulis suratnya lucu, asyik, dan becanda gokil. Katanya aku udah kaya' adeknya. Sampe aku ngenalin lagi dia sama sahabatku yang lain. Pengen berbagi nih ceritanya. Tapi ternyata surat-suratnya nggak pernah lagi datang. Hmm, gimana kabarnya sekarang ya?

Masih banyak lagi sahabat-sahabat yang lain, yang semuanya punya kenangan manis.
Seperti sahabat yang aku temukan kemarin malam, adalah satu sahabat terbaik yang hilang. Bersama kami tumbuh remaja, lalu menjadi dewasa. ;)
Indahnya saling berbagi apa yang dirasakan saat abege dulu. Saat jatuh cinta, patah hati, dan bete belum punya gebetan, juga saat cerita tentang  cita-cita. Senang rasanya sekarang dia sudah mantap berpijak di dunia kesehatan. :)
Meski aku dan dia belum  pernah bertemu, tapi rasanya dekat sekali. Aku berharap semoga persahabatan ini bisa terus berlanjut. Walau  kini, menulis surat lewat pos tidak sepraktis mengirim email, sesekali nanti aku masih tetap ingin menulis surat lewat pos. Lalu menerima balasannya.  Aku ingin menggunting  amplopnya, atau mendengar bunyi sobekan di ujung amplop, seperti dulu...
"Aku ingin menerima surat lagi darinya!"


05 March 2012

Kunjungan kesorean

Kemarin, sepulang berkunjung dari rumah kerabat, anak-anak minta diajak mampir ke Monumen Pancasila Sakti. Mereka memang belum pernah diajak. Soalnya, dulu aku pernah ke sana, dan ngerasain suasana yang agak mistis   (*halaaah). Makanya anak-anak nggak pernah diajak ke sana. Tapi, karena jalannya satu arah, permintaan mereka dipenuhi juga. Padahal sampe di sana udah sore banget. Sepi.


Jadi ingat pengalaman pertamaku dulu, aku selalu merasa  bulu romaku berdiri.Entah kenapa, mungkin karena cahaya lampu yang tidak begitu terang membuat aku takut. hehe, cemen ya? Tapi begitulah adanya. Aku memang nggak berani mengulang lagi kisah-kisah lama jaman PKI dulu. Mungkin karena dulu, tiap tahun disuguhi tontonan yang menurutku cukup serem untuk anak sd yang masih imut. Akhirnya karena takut, setiap tahun pas tanggal 31 september, aku selalu memilih tidur lebih cepat. Bukan apa-apa, aku suka kebayang adegan demi adegan film itu. Apalagi, pas adegan......, waduh nggak usah di cerita'in dah! Takuuuut!


Nah, yang agak melegakan, kemarin itu nyampenya agak kesorean, jadi gedung tempat memajang segala diorama itu udah tutup. ( dalam hati lega...,hahha), jadi anak-anak cuma bisa lihat sekitar area lubang buaya, dan monumen pahlawan kita yang berdiri gagah. Pengunjung  bisa di hitung dengan jari

Sebelum masuk, Tita bergaya dulu

lumayan juga, karena sepi jadi enak buat foto-foto

Tuh kan, udah sore banget!

Ini ruang apa ya? lupa..

Sayang deh, sama adek :)

Meski cuma jalan-jalan di seputaran lubang buaya aja, anak-anak sudah cukup senang. Apalagi melihat bekas dapur umum dan beberapa tempat pertemuan lainnya. Aku sih tutup mata waktu ngelewatin ruang penyiksaan. Hahaha., asli nggak berani.
Ya, yang penting anak-anak senang dan keinginan mereka sudah terpenuhi.
Tapi ada nggak enaknya juga sih. Pas pulang, Tita ngomong..
"Kapan-kapan kita ke sana lagi ya? kan belum masuk gedungnya!" Wew..., aku langsung deg-degan.



02 March 2012

Burung Jempa

Lucu deh, dengerin adek bersenandung lagu bungong jeumpa ( bener nggak tulisannya ya?) 
Awalnya sih, karena si kakak kebagian tugas ngafalin lagu daerah.
Nggak terhitung berapa kali dia ngulang lagu itu sampai hafal. Jadi, si adek yang nggak sengaja denger, juga ikutan hafal. Tapi lucunya karena nggak punya catatan, lagunya malah terdengar seperti ini :

    
    Burung jempaaa..
    Burung jempaa
    Tinggal di aceh

    Burung Kelebee      
    Kelebee..
    Ciptaan toimaaah..
  
    Burung jempaaa..
    Burung jempaa
    Tinggal di aceh,

    Burung Kelebee,
    Kelebee..
    Ciptaan toimaaah..


Hahaha, pokoknya  lucu banget deh. Akhirnya kakak pinjemin catatan lagunya ke adek.Baru dia nyadar dan mau di ajarin yang bener. 
Alhamdulillah, sekarang mereka sudah hafal. 
Tapi, sesekali edisi salah itu masih sering di nyanyikan. Tentu saja hanya untuk lucu-lucuan..