29 March 2018

NYAMANNYA MEWARNAI DENGAN GOLDFABER DARI FABER CASTELL




Teman-teman suka mewarnai gambar? Kalo, iya.. berarti kita sama! Saya lebih suka mewarnai dari pada menggambar. Konon katanya, mewarnai bisa meredakan stress. Pikiran jadi rileks dan mengasah kreativitas dan meningkatkan konsentrasi.

Kegiatan mewarnai, juga bisa memperbaiki mood lho. Kalo mood lagi jelek ambil aja pensil warna, trus mulai deh padukan warna-warna pada gambarnya. Dengan sendirinya mood akan terbangun lebih baik. Tapi, jangan salah juga, mood seketika akan berubah kalau pensil warna yang kita gunakan mudah patah. Keras ketika diaplikasikan dan warna gak muncul. Duilaaah.. rasanya pengen gigit pensilnya! 

Tapi, untuk masalah pensil warna yang bikin mood jelek ini, saya udah nemuin solusinya. Hari Sabtu tanggal 24 Maret 2018 lalu, saya ikutan workshop bersama Faber Castell dan Kumpulan Emak2 Blogger. Bertempat di Plaza Senayan,  saya dan teman-teman blogger mencoba mewarnai dengan pensil warna Goldfaber dari Faber Castell.

Pertama melihat kemasannya, kesan elegan langsung tercipta. Ternyata kemasan berwarna biru tua ini memang ditujukan untuk dewasa pemula. Saat mencoba pegang pensilnya, rasanya enak banget di tangan. Kokoh gitu. Apalagi saat mencoba mewarnai gambar yang sudah disediakan. Goresannya empuk, pokoknya nyaman banget dan no patah-patah. Aaak.., langsung jatuh cinta.



Goldfaber ini seri terbaru dari Studio Creativity. Jadi, yang berwarna biru untuk dewasa pemula. Sedangkan yang warna hijau untuk level expert, untuk seni, grafis, hobi atau profesional. Namanya Polychromos dan Albrecht Durer. Dua produk ini punya kelebihan kualitas warna yang prima. Warnanya nggak akan pudar hingga 100 tahun lamanya. WOW, bangeet ya. Gambar kita bisa diwariskan sampe ke anak cucu.


MEWARNAI DENGAN GOLDFABER FABER CASTELL





Sejujurnya sejauh ini, Faber Castell yang lekat diingatan saya adalah Faber Castell dengan kemasan berwarna merah. Ternyata, menurut keterangan dari Ibu Fransiska Remilla, Manager PT. Faber Castell Internasional Indonesia, Faber Castell dengan kemasan merah memang dikhususkan untuk anak-anak. Kirain saya, sama aja. Ternyata berbeda. Bentuk pensilnya dirancang agar nyaman saat dipakai anak-anak. Demikian juga untuk pensil warna untuk orang dewasa, dibuat sesuai dengan kenyamanan orang dewasa. Hm, baru paham deh, saya..


Usai mendengarkan ulasan dari Ibu Fransiska, acara dilanjutkan dengan beberapa pengarahan dari Mas Rizal. Sore itu. Mas Rizal akan menunjukkan beberapa tehnik mewarnai menggunakan Goldfaber. Saya merasa beruntung banget. Selama ini, kalau mewarnai ya langsung mewarnai aja, nggak pakai tehnik-tehnikan. Alhamdulillah banget bisa dapat ilmunya.



Untuk mewarnai, ada beberapa tehnik yang bisa dilakukan. Di antaranya :

  • BLENDING. Caranya dengan menggabungkan dua warna. Misalnya untuk mewarnai sebuah bidang, beri warna muda, kemudian timpa dengan warna tua, untuk memberi efek datangnya cahaya.
  • HATCHING. Tehnik ini dilakukan dengan cara mengarsir. Jadi bentuknya seperti garis tipis yang sejajar dan rapat. Garis ini yang akan memunculkan gradasi warna yang cantik.
  • CROSS HATCHING. Arsiran dilakukan dengan cara menumpuk dan berlawanan arah. Jadi, semacam garis tipis yang saling bersilangan.



Pada praktiknya, mewarnai dengan menggunakan tehnik yang diajarkan Mas Rizal, harus dilakukan dengan kesabaran. Apalagi buat saya yang masih bingung dengan shading untuk penempatan arah cahaya. Tehnik Hatchingnya juga harus hati-hati. Maklum lah, namanya juga pemula. Goresannya sangat ragu-ragu.. hahaha.

Untungnya Goldfaber ngebantu banget. Nyaman dipakai dan empuk saat digoreskan. Jadi, mewarnai tuh  malah bikin kita keasyikan. 

Ikutan Worshop kali ini, bener-bener bikin saya dan teman-teman happy. Sebagai Ibu yang banyak kegiatan baik di rumah maupun pekerjaan lainnya, pastinya butuh banget cara untuk menjaga mood, biar gak cepat marah. Nggak stress. Tetap santai dan tetap awet muda. Kebiasaan mewarnai gambar harus terus dilanjutkan nih. Siapa tau nanti malah makin jago mewarnainya. Tenang aja, kan ada Goldfaber. Makin rajin deh latihannya.. :)




















28 March 2018

PEDULI TUBERKULOSIS UNTUK MEWUJUDKAN INDONESIA SEHAT


Suatu siang, di acara Lokakarya Blogger di Kemenkes yang membahas tentang penyakit Tuberkulosis, tenggorokan saya mendadak tercekat. Mata berkaca-kaca dan perlahan-lahan sudut mata saya basah. Saya menyekanya diam-diam. Ada rasa yang tak kuasa saya tahan, ketika mendengar pengalaman seorang mantan penderita Tuberkulosis MDR.

Pak Edi namanya. Seorang lelaki berperawakan kurus tinggi, hadir di depan saya dan teman blogger untuk membagikan kisahnya ketika bergelut dengan Tuberkulosis MDR. Dua tahun pengobatan dilaluinya dengan susah payah.

Bukan rahasia lagi kalau hal terberat yang dialami oleh orang yang positif menderita Tuberkulosis adalah ketika harus berhadapan dengan lingkungan sekitar. Jangankan lingkungan, terkadang keluarga dekat pun terang-terangan ambil jarak. Inilah yang dialami Pak Edi. Seketika dirinya menjadi orang asing. Jangankan berinteraksi, peralatan makan dan minumnya pun diberi tanda agar tak bercampur dengan yang lain.

Sayangnya, di tengah-tengah pengobatan, ketika merasa dirinya sudah agak baikan, Pak Edi menghentikan pengobatan.  Padahal untuk pengobatan TBC, minum obat sama sekali tidak boleh terlewat. Fatal akibatnya karena pengobatan harus diulang. Hal ini membuat waktu berobat semakin panjang.

Selain waktu pengobatan menjadi makin panjang, penderita Tuberkulosis juga mengalami resisten obat. Artinya, TBC yang diderita sudah mengalami kebal obat. Ini yang paling susah. Harga obatnya pun lebih mahal. Untuk pengobatan Tuberkulosis MDR, selisihnya 200 kali harga obat TBC biasa.

Pak Edi sangat menyesal karena kelalaiannya membuat dirinya harus membayar dengan mahal. Bukan dalam bentuk uang, karena biaya pengobatan TBC gratis, alias ditanggung pemerintah. Tapi kelalaiannya membuat ia harus menjauh lebih lama dari keluarganya. Dan yang paling membuatnya terpukul, istri  yang selalu setia merawatnya tutup usia. Dengan suara terbata-bata Pak Edi menuturkan kesedihannya tentang kepergian istri tercinta.

Akhirnya, dengan segenap daya dan upaya, Pak Edi bisa melalui semua cobaan dan berhasil menyelesaikan pengobatannya dalam waktu dua tahun. Dirinya mengantongi sertifikat yang menyatakan dirinya sudah sembuh dan bebas dari TBC. Saat ini, Pak Edi dan beberapa teman mantan penderita TBC mengabdikan diri di rumah sakit untuk memberikan semangat kepada pasien TBC untuk menjalani pengobatan dengan intensif. Senang sekali mendengarnya. Selamat ya, Pak Edi.. 



UPAYA PENCEGAHAN TUBERKULOSIS 



Pak Edi adalah sebagian penderita TBC yang beruntung, masih diberi kesembuhan. Tapi, pada kenyataannya, masih banyak penderita TBC yang harus berakhir hidupnya karena kematian. Dalam kesempatan workshop yang menghadirkan Dr. Pandu Riono sebagai narasumber. Ada fakta yang membuat hati cukup miris. Indonesia termasuk negara dengan kasus TBC paling banyak.

Mengapa demikian? Ternyata, karena pada umumnya, penderita TBC terlambat ditangani. Belum ada kesadaran dari masyarakat untuk waspada pada penyakit TBC. Apalagi, daerah yang paling banyak terserang TBC adalah daerah dengan pemukiman yang padat. Contohnya di beberapa tempat di Jakarta. Kebiasaan merokok, kondisi tempat tinggal yang kurang layak, seperti minim cahaya matahari, ventilasi dan kebiasaan yang kurang menjaga kebersihan membuat kuman TBC dengan mudah menular.

Yang dikhawatirkan bila penderita TBC merasa lelah dan bosan dengan pengobatan. Misalnya untuk pengobatan TBC yang sensitif terhadap obat, pengobatan memakan waktu selama 6-8 bulan yang terbagi dalam dua tahap. Yaitu tahap awal setiap hari 2-3 bulan dan tahap lanjutan 3 kali seminggu selama 4-5 bulan. Jika dalam masa pengobatannya pasien TBC berhenti minum obat, muncul lagi masalah baru. Dampaknya akan menyebabkan pasien TBC mengalami resistan obat.

Pengobatan yang tidak tuntas menyebabkan resistan.
  • Penyakit tidak sembuh dan tetap menularkan kepada orang lain. 
  • Selain itu, penyakit akan bertambah parah dan bisa berakibat pada kematian.
  • Obat Anti TBC (OAT) biasa tidak dapat membunuh kuman, sehingga pasien tidak bisa disembuhkan
  • Pengobatan lebih lama. sekitar 2 tahun
  • Biaya pengobatan mencapai 200 kali lipat

Bayangkan, pengobatan TBC yang tidak tuntas bisa menyebabkan kematian. Udah gitu masih beresiko menular kepada orang lain..



ELIMINASI TUBERKULOSIS dengan TOSS, TEMUKAN TUBERKULOSIS, OBATI SAMPAI SEMBUH




Untuk mengatasi kasus TBC yang semakin meningkat, pemerintah mengambil langkah sigap dan melakukan berbagai upaya untuk mengeliminasi TBC selamanya. Di antaranya, melakukan upaya jemput bola atau ketok pintu. Dengan kata lain, penderita TBC harus ditemukan. Diajak untuk melakukan pemeriksaan dan menjalani pengobatan sampai tuntas. Istilahnya TOSS : Temukan Tuberkulosis, Obati Sampai Sembuh. Tapi, petugas kesehatan juga tidak bisa bekerja sendirian lho, mereka butuh informasi dari masyarakat. Masyarakat juga dituntut kesadarannya untuk memeriksakan diri apabila mengalami gejala-gejala batuk yang diiringi gejala lainnya.

Gejala-gejala yang harus diwaspadai dan adalah :
  • Gejala utama - Batuk lebih dari dua minggu (berdahak maupun tidak berdahak)
  • Demam meriang  dengan suhu yang tidak terlalu tinggi
  • Berkeringat tanpa sebab, terutama pada sore dan malam hari
  • Batuk berdahak dapat bercampur darah
  • Nyeri dada
  • Nafsu makan menurun
  • berat badan menurun


Apabila ada anggota keluarga atau bahkan tetangga yang mengalami gejala seperti di atas, segera lah memeriksakan diri. Soalnya, penyakit TBC cepat sekali menular. Kumannya bisa terbang bebas di udara melalui bersin, batuk, bahkan ketika beryanyi. 

Di bawah ini, adalah faktor resiko memudahkan penularan TBC :

  1. Pasien TBC paru dengan kuman positif pada dahaknya
  2. Jumlah percikan dahak dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut
  3. Kontak erat dengan pasien TBC
  4. Tinggal di daerah padat penduduk
  5. Orang yang bekerja dengan bahan kimia yang beresiko menimbulkan paparan infeksi paru
  6. Daya tahan tubuh yang rendah, seperti HIV/AIDS, usia lanjut, Anak dan pada orang dengan malnutrisi. HIV merupakan faktor resiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TBC menjadi sakit TBC
  7. Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TBC akan menjadi sakit TBC

Mengingat begitu mudahnya kuman TBC menular, diperlukan upaya yang tepat untuk memeranginya. Cara yang paling mudah dan murah adalah dengan menjaga etiket batuk.

ETIKET BATUK

- Menggunakan masker pada saat berada di tempat umum. 
- Mengarahkan mulut ke lengan bagian dalam apabila batuk. Jangan menutup mulut dengan telapak 
  tangan ya.. cara ini hanya akan membuat kita menularkan kumannya ke berbagai tempat. Apalagi        kalau abis itu salaman sama teman. Kasihan teman kita kan.. kalau kondisinya sedang tidak fit, bisa    ikutan sakit juga. 
- Menutup hidung dan mulut dengan tisu atau sapu tangan
- Segera buang tisu yang sudah dipakai
- Cuci tangan dengan sabun dan dengan menggunakan air mengalir


Dengan menjaga etiket batuk, berarti kita sudah melindungi diri dan orang lain juga dari penyakit.


Selain menjalankan etiket batuk, ada hal lain yang sangat penting untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya bersama untuk mencegah kuman TBC bersarang.
Caranya  dengan menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat. Di antaranya :
  • Menjemur alat tidur
  • Membuka jendela dan pintu setuap pagi agar udara dan sinar matahari masuk
  • Makan makanan bergizi
  • Tidak merokok dan minum minuman keras
  • Olahraga secara teratur
  • Untuk pasien TBC, minumlah OAT / Obat Anti TBC secara lengkap dan teratur sampai sembuh
  • Pasien TBC harus menutup mulutnya pada waktu bersin dan batuk.
  • Tidak membuang dahak di sembarang tempat, tetapi dibuang di tempat khusus dan tertutup



Upaya mengeliminasi penyakit Tuberkulosis memang memerlukan kerja keras dari berbagai pihak. Kita, sebagai warga negara yang ingin hidup dalam lingkungan yang sehat, juga harus ikut peduli dalam mensukseskannya demi mewujudkan Indonesia sehat. Lakukan pencegahan dengan menerapkan gaya hidup sehat. Jaga etiket batuk dan lapor ke petugas kesehatan masyarakat bila menemukan warga dengan gejala TBC yang tidak mau memeriksakan diri, Terakhir, bila ada anggota keluarga atau teman yang menderita TBC, dukunglah agar melakukan pengobatan hingga tuntas. Pengobatan yang tuntas, akan melenyapkan penyakit TBC dari kehidupan kita selamanya.




















21 March 2018

TEMUKAN VALUE YOUR LIFE BERSAMA ONGGY HIANATA


( image : Pixabay.com )


Value Your Life. Kata orang, bahagia adalah pilihan. Kita sendiri lah yang membuat kehidupan kita berharga. Yang memutuskan apakah akan menjalani hidup dengan bahagia atau menjadi murung selamanya, ketika menghadapi berbagai permasalahan dalam kehidupan.

Sekilas, secara teori memang mudah. Apa susahnya sih, untuk tetap berpikir positif. Apa susahnya sih, untuk berpikir jernih dan membuang rasa kalut jauh-jauh. Ngomong sih memang mudah, yes. Tapi, pernah nggak, membayangkan sejenak berada di posisi orang yang sedang menghadapi masalah? Nggak semudah itu juga menerapkan seperti apa yang orang-orang sarankan. Nggak semudah  yang mereka bilang "value your life" bila pada kenyataannya kita merasa seluruh harapan nyaris musnah.

Setiap orang memang diciptakan dengan ketahanan yang berbeda-beda. Saya sendiri pun, selalu butuh teman curhat yang bisa memberi saya saran menurut sudut pandangnya. Saya cukup beruntung, pada saat saya butuh kata-kata menyejukkan, selalu ada yang memberikan saya kekuatan. Tapi, tentu tidak dengan yang lain. Rasanya, sudah banyak berseliweran berita tentang kasus-kasus bunuh diri. Tua, muda, mereka tidak bisa menemukan jalan keluar dari persoalan dan  nekat mengakhiri hidup. Tentang "value your life" semua hanya tinggal kenangan.

Tapi, banyak orang juga yang ketika memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Malah mendapatkan secercah harapan. Bangkit dari keterpurukan dan membangun kembali hidupnya. Menjadi lebih baik, menghargai hidup, menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya.

Hal inilah yang saya dengarkan langsung dari kisah hidup seorang pria berusia 30 tahun bernama Yulianto, SE. Alumni A-Life Changing Bootcamp , di Ev Hive Cafe, Jakarta Pusat pada tanggal 14 Maret lalu. Mendengarkan kisahnya membuat saya merasa ngeri. Terlilit utang sebanyak 200 juta, membuatnya kalut. Nekat dan berniat menjatuhkan diri dalam perjalanan kereta jurusan jakarta - Bogor. Beruntung sebelum hal itu dilakukan, wajah sang Ibu melintas di benaknya. Membayangkan ibunya menghadapi tuntutan utang sebanyak itu, rasanya nggak tega. Seketika dirinya sadar dan berusaha bangkit sekuat tenaga.

Lain lagi dengan kisah keluarga Dr. Erry Gautama dan Dr. dr. Anggraini Dwi S, Sp. Rad (K), sebagai pasangan suami istri berprofesi dokter, mereka adalah sosok yang berhasil dalam karirnya. Namun, dalam rumah tangga, perjalanannya nggak semulus yang orang kira. Bahkan dalam menjalin hubungan dengan anak-anak pun, dijalani dengan penuh kesulitan.

Begitu juga dengan keluarga Ir. Sudarmono Djoko Nugroho dan Dra. Ary Hellya Kurniati Apt, sebagaimana layaknya kehidupan berumahtangga, kadang ada beberapa hal yang sulit diterima oleh pasangan. Nah, dalam hal ini, masalah kesenjangan dalam pendapatan seringkali menimbulkan konflik yang berujung pada pertengkaran. Pokoknya suasana jadi nggak nyaman. Rumah tangga mereka bahkan sempat berada di ambang perceraian. Sampai kemudian sesuatu mengubah kehidupan mereka. Saran dari teman-teman untuk mengikuti  Value Your Life - A Life Changing Bootcamp yang didirikan Bapak Onggy Hianata Chunnardy, menjadi titik balik bagi kehidupan mereka. Kini mereka lebih bahagia.





VALUE YOUR LIFE - A LIVE CHANGING BOOTCAMP WITH ONGGY HIANATA





Jujur, nama Bapak Onggy Hianata masih terdengar asing di telinga saya. Namun, begitu melihat kiprahnya, seketika saya langsung merasa kurang update. Masa sih, saya bisa terlambat tahu, ada sosoknya yang begitu inspiratif.  

Onggy Hianata Chunnardy adalah pria kelahiran Tarakan, Kalimantan Timur, 6 Maret 1962. Masa kecil dilaluinya dengan hidup sangat sederhana. Sang Ayah, Ong Tjoi Moi adalah seorang pegawai di sebuah toko kelontong. Pendapatannya yang tidak seberapa membuat kehidupan keluarga dengan sembilan anak, mengalami kesulitan keuangan. Karena pendapatan yang sedikit, Onggy kecil, terpaksa masuk sekolah pada saat teman-temannya sudah duduk di kelas 3 SD.

Sebagai seorang ayah, Ong Tjoi Moi banyak memberikan petuah kepada Onggy. Pecutan semangat, pantang menyerah dan setia pada integritas adalah warisan yang diberikannya pada Onggy. Hingga akhir hayat ayahnya, Onggy tetap memegang teguh pesan dari orang yang sangat dicintainya.

Perjalanan hidup yang keras, keterbatasan ekonomi, membuat Onggy ingin mengubah hidup. Saat usianya remaja. dirinya sudah berpikir untuk pindah ke Surabaya. Meski sulit untuk meyakinkan keluarga, pada akhirnya, dengan uang tabungan dan sumbangan dari Kakak-kakaknya, Onggy mendapat ijin untuk melanjutkan sekolah. Dengan catatan, biaya hidup harus ditanggung sendiri.

Hidup di Surabaya membuatnya harus berjuang. Sambil kuliah, Onggy berjualan jagung bakar, menjadi pemasok buah, membuat kerupuk dan malangnya, semua usaha yang dijalaninya tidak berjalan lama. Onggy berulangkali gagal. Beberapa kali ditipu pembeli. membuat semua tabungannya habis tak bersisa. Onggy sampai pada titik marah pada keadaan. Namun akhirnya dia sadar, apapun keadaannya, dia harus tetap bangkit. Onggy harus berpikir menembus batas. Kehidupannya harus terus berlanjut.

Singkat cerita, Onggy menikah dan menjadi karyawan di sebuah pabrik benang. Tapi, karena darah bisnisnya begitu kuat mengalir, Onggy berpikir untuk resign dan membangun usahanya sendiri. Menikmati kehidupan bersama keluarga. Tapi, nggak semudah apa yang dibayangkan. Kehidupannya justru makin sulit. Menjadi pengangguran dan sempat diusir karena nggak bisa bayar uang kontrakan. Kemudian hidup menumpang di rumah saudara perempuannya.

Pada satu titik, Onggy bertekad untuk bangkit dan berjuang sekuat tenaga untuk mengubah keadaan. Anaknya nggak boleh hidup miskin seperti apa yang pernah dilaluinya. Lewat usaha yang nggak kenal menyerah, akhirnya Onggy bisa bernapas lega. Usaha penjualan koin emas dan kesempatan untuk membuka usaha di bidang pendidikan yaitu Edunet International. mengubah hidupnya. Dengan niat untuk membantu banyak orang keluar dari kesulitan, Onggy mendirikan training bootcamp Value Your Life.


MENDIRIKAN BOOTCAMP A LIFE CHANGING


Value Your Life - A life Changing Bootcamp didirikan pada tanggal 14 Februari 2003. Kegiatan yang diikuti oleh peserta dari 75 negara ini, dilaksanakan di Puncak selama 3 hari. Dalam waktu 3 hari inilah, peserta digembleng untuk menemukan nilai-nilai hidupnya.  Mencintai dan menghargai kehidupan yang dimiliki. Dan bangkit dari segala kekecewaan. Banyak peserta yang mengalami perubahan dalam hidupnya. Menyadari potensi yang selama ini dimiliki. Kehidupannya menjadi lebih baik dan siap untuk meraih kesuksesan.

Bootcamp yang diadakan setiap tahun sekali ini, selalu laris diikuti peserta dari berbagai negara, padahal jarang banget ya, kita lihat iklannya. Ternyata, testimoni peserta lah yang menjadi berita dari mulut ke mulut. Banyak orang merasa terbantu dan mengalami perubahan dalam hidupnya. Mental mereka menjadi lebih tahan banting dan selalu berpikir positif. Edunet International memberi jalan kepada orang banyak, untuk lebih menghargai hidup yang dimiliki.


Duh, saya dan teman-teman mendadak pengen ikutan bootcamp juga. Rasanya, pengen banget menjadi orang yang selalu positif dan siap untuk meraih sukses. Seperti gayung bersambut, Pak Onggy memberi kabar yang sama sekali tidak kami duga. Kami yang hadir pada saat itu akan diundang secara khusus untuk mengikuti bootcamp selanjutnya secara gratis. GRATIS! 

Whuaaaaaa..., seketika suasana mendadak riuh. Sama sekali nggak nyangka, kalau kami bisa mengikuti bootcamp. Speechless!


FILM TERBANG MENEMBUS LANGIT




Kisah hidup Pak Onggy Hianata, ternyata memberi inspirasi seorang Fajar Nugros dan Demi istri Production, untuk dituangkan dalam film Terbang Menembus Langit.

Diperankan oleh Dion Wiyoko sebagai Onggy dan Laura Basuki sebagai istri yang selalu mendukung apapun keadaannya. Didukung oleh Baim Wong, Delon Thamrin dan beberapa artis terkenal lainnya. 

Saya dan teman-teman mendapat kesempatan untuk menonton screening film ini di XXI Plaza Indonesia. Filmnya baguuus.. Kisah hidup yang pahit berhasil digambarkan dengan manis. Beberapa kali saya mengusap air mata. Kadang menangis, kadang ketawa. Sama lah seperti hidup kita.. Eeaa..

Film ini akan diputar serentak pada tanggal 19 April nanti. Jaga tanggalnya ya.. 
Kisah inspiratif ini akan membuka mata dan menyadarkan kita bahwa Value Your Life itu, benar-benar ada di tangan kita.














19 March 2018

Daftar Harga Pie Susu Bali Termurah yang Bisa dijadikan Referensi



Pie susu Bali memang menjadi salah satu oleh-oleh khas Bali yang wajib dibeli untuk orang tersayang. Harga pie susu Bali ini sangatlah bervariasi, sehingga kita dapat memilih yang sesuai dengan kehendak dan selera. Sedangkan untuk varian rasa yang dijual di pasaran, cukup banyak yang  bisa kita jadikan pilihan. Harganya pun beragam ya. Sehingga di balik harganya yang beragam, kita dapat melakukan pemilihan pada paket cita rasa yang ingin dibeli nantinya.

Untuk membeli pie susu Bali, supaya tidak kehabisan, maka kita harus datang pagi hari. Atau bisa juga melakukan pemesanan terlebih dahulu dengan cara melalui telepon, sehingga hal ini akan sangat memudahkan  pada saat ingin melakukan pembelian agar tidak kehabisan stok yang ada di pasaran, karena memang untuk stok yang dijual di pasaran sering kali kehabisan, maka kita harus bergerak cepat agar tidak kehabisan oleh-oleh pie susu Bali.

Sebelum memutuskan untuk membeli, ada baiknya jika kita mengetahui terlebih dahulu harga pie susu Bali  yang ada di pasaran, hal ini akan membantu kita untuk bisa melihat jenis paket dalam melakukan pembelian. Dengan begitu kita bisa melakukan perbandingan harga dari penjual yang satu dengan penjual yang lainnya. Agar bisa menemukan penjual pie susu yang paling tepat dan tentunya memberikan harga yang paling sesuai atau paling murah diantara pada penjual yang lainnya.

Berikut ini ada beberapa daftar harga yang bisa kita ketahui sebelum memutuskan untuk membeli pie susu Bali, yaitu sebagai berikut ini :

Harga untuk pie susu Bali original Rp 2.750/pcs toping.

Untuk rasa almond, kismis, keju, dan coklat Rp 3.000/pcs untuk 1 box.

Untuk varian rasa campur Rp 103.250 (ada 5 varian rasa yaitu untuk rasa original, choco, keju, kismis serta almon).

Untuk rasa original Rp 96.250.

Sedangkan untuk pemilihan paket rasanya pun kita dapat melakukan pemilihan sesuai dengan yang diinginkan dengan berbagai varian rasa yang pas dengan selera.

Banyaknya varian rasa yang ada, membuat kita lebih leluasa dalam menentukan varian rasa yang diinginkan. Karena memang untuk oleh-oleh dari Bali, kue yang memiliki ciri khas berbentuk bulan pipih inilah yang menjadikan banyak para wisatawan tergiur untuk bisa membawa oleh-oleh makanan yang memiliki toping dan memiliki rasa yang renyah pada saat di gigit.

Supaya tidak kehabisan stok, maka melakukan pembelian di pagi hari atau bahkan melakukan pemesanan terlebih dahulu adalah hal yang dapat teman-teman lakukan agar tetap bisa membawa oleh-oleh berupa pie susu Bali yang tentunya memiliki cita rasa yang berbeda dengan jenis makanan oleh-oleh lainnya.

Dengan daftar harga pie susu Bali yang ada di atas, semoga dapat sedikit membantu teman-teman agar bisa  menemukan oleh-oleh yang halal dengan harga yang sesuai dan rasa yang enak.

Selamat berbelanja Pie susu Bali ya..

10 March 2018

JAKARTA FOOD SECURITY SUMMIT 2018, BERSAMA DUKUNG KETAHANAN PANGAN INDONESIA



Hari Kamis, tanggal 8 maret 2018 lalu, bertempat di Jakarta Convention Center - Senayan, Jakarta, saya menghadiri acara pembukaan Jakarta Food Security Summit (JFSS) yang ke 4. Acara yang rutin diadakan oleh KADIN Indonesia, setiap dua tahun sekali ini digelar dua hari, mulai tanggal 8 - 9 Maret. Dihadiri oleh Bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan para undangan dari berbagai kalangan dengan jumlah sekitar 1500 orang. 

Tema yang diangkat pada JFSS-4 tahun ini adalah "Pemerataan Ekonomi Sektor Pertanian, Peternakan dan Perikanan Melalui Kebijakan dan Kemitraan" terdiri dari dua bagian, yaitu seminar nasional dan pameran pangan nasional. Mengenai pameran pangan ini, seluruh masyarakat bisa datang tanpa dipungut biaya. Kapan lagi kan, bisa lihat sejauh mana perkembangan ketahanan pangan negara kita.

Belum lama ini, topik yang cukup hangat dibicarakan di kalangan Ibu-ibu, adalah tentang merangkaknya harga beras. Naiknya cukup lumayan. Kalau dipikir-pikir, gimana nggak jadi topik hangat ya, beras kan kebutuhan pangan yang nggak bisa ditawar-tawar. Setidaknya untuk wilayah yang belum terbiasa untuk mengganti makanan pokok nasi, kenaikan harga terasa cukup mengganggu. 

Ini sesuai banget dengan kata sambutan yang disampaikan oleh Bapak Jusuf Kalla. Beliau bilang,  "Kita boleh tidak punya baju, tapi kita tidak boleh kekurangan pangan." 
Masalah pangan  adalah masalah dunia. Indonesia harus bisa menjaga agar ketahanan pangannya tetap kondusif. Jangan pesimis.

Iya sih, kita nggak boleh pesimis. Yakin, kalau Indonesia bisa menjaga ketahanan pangan dengan baik.

Bapak Jusuf kalla juga bercerita tentang India yang kini menjadi negara yang berhasil meningkatkan hasil pangannya. Padahal lahan mereka terbatas. Mereka berhasil membalikkan keadaan. Yang dulunya mengimpor gandum, sekarang malah bisa ekspor gandum. Bukannya nggak mungkin, Indonesia bisa mencontoh mereka.

Nah, bicara tentang mencukupi kebutuhan pangan dan menjaga agar harganya tetap stabil, ternyata negara kita menghadapi banyak tantangannya lho. Di antaranya tentang lahan yang semakin sedikit. Padahal jumlah penduduk semakin bertambah. Belum lagi masalah ketersediaan air, perubahan iklim dan sumber daya manusianya yang belum memadai dan berbagai masalah lainnya.

KADIN Indonesia, melalui  JFSS yang merupakan wadah lintas sektor, baik swasta, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, badan internasional, kalangan akademik dan para petani bersama-sama menyusun langkah untuk meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kesehteraan petani melalui praktik pertanian yang baik dan ramah lingkungan. 


PETANI SEJAHTERA PANGAN SELALU TERSEDIA


(pict : Pixabay.com)

Kadang, kita suka lupa ya, orang-orang yang sangat berjasa dalam kehidupan kita, adalah para petani yang terus bekerja untuk mencukupi kebutuhan kita. Bayangkan kalau petani nggak mau lagi menanam padi. nggak mau lagi menanam tebu, kopi dan berbagai komoditi lainnya. Bayangkan kalau mereka nggak kuat menghadapi tantangan seperti lahan yang terkena banjir. Mudah putus asa dan banting setir melakukan pekerjaan lain. Kita mau makan apa? 

Petani, peternak atau orang-orang yang berkecimpung di dalamnya perlu banget didukung. Hingga saat ini KADIN Indonesia berhasil membangun kemitraan dengan 24 perusahaan untuk memberikan bantuan pendanaan. Hingga saat ini, sebanyak 430 ribu petani sudah merasakan manfaatnya. Nggak hanya mendapatkan pembiayaan, tapi juga mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan.

Keterlibatan perusahaan memang sangat diperlukan. Misalnya, untuk melakukan riset dan inovasi. Biaya untuk melakukan riset nggak mungkin dilakukan petani. Sama halnya dengan inovasi. Dengan pengetahuan yang terbatas, mungkin agak sulit untuk diwujudkan. Melalui kemitraan, perusahaan dan berbagai sektor yang terlibat di dalamnya, bisa melakukan transfer ilmu kepada para petani, memberikan bibit unggul, dan berbagai solusi untuk setiap masalah yang dihadapi. Dengan berbagai kemudahan ini, petani akan semakin produktif dan hasil pangan akan meningkat. Bila hasil meningkat, sudah pasti dong, petani akan sejahtera. :)


MENGINTIP PAMERAN PANGAN JFSS 2018













Pameran Pangan JFSS 2018 ini, diikuti berbagai kelompok kerja dari berbagai komoditi. Mulai dari pertanian, perikanan, peternakan dan industri. Berbagai informasi bisa dengan jelas kita dapatkan melalui bilboard yang dipasang di setiap stand pameran. Melalui kerjasama berbentuk kemitraan dengan perusahaan besar, kelompok kerja mendapatkan pendampingan , pendanaan dan kepastian dalam pendistribusian hasil panen.





Pameran pangan ini juga dilengkapi dengan aneka booth yang menyediakan icip-icip gratis. Ada booth Garuda Food, So Good, Sunpride dan banyak lagi. Semua icip-icip yang disediakan selalu laris manis. Habisnya, memang enak sih. Saya aja, jadi ikut bangga. Senang rasanya, menyadari bahwa dari setiap makanan yang kita makan, ada jerih payah para petani dan peternak yang menggantungkan harapan di sana. Dengan makin banyaknya jenis makanan yang diciptakan, tentunya akan memerlukan banyak bahan baku. Pak tani dan peternak jadi makin semangat.




Pameran ini juga dikunjungi oleh siswa dari sekolah-sekolah di Jakarta. Rasanya senang aja melihat mereka memiliki ketertarikan dan bertanya tentang banyak hal. Semoga melalui JFSS 2018 ini, siswa-siswa yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa ini, bisa memberikan kontribusi berupa inovasi dan ide-ide cemerlang, untuk menjadikan Indonesia negara  yang kaya akan hasil pangan. 


Sampai jumpa di JFSS dua tahun mendatang ya.. Tetap optimis!























03 March 2018

LOGO BARU SO GOOD, LEBIH SEGAR DAN SARAT MAKNA UNTUK KELUARGA INDONESIA




"Besok bawa bekal apa, Ma?"

Ini pertanyaan rutin dari anak-anak saya, setiap kali menyiapkan keperluan sekolah di malam hari.

"Ayam pedas manis So Good, mau nggak?" Tanya saya lagi. Sebenarnya, ini pertanyaan yang nggak perlu sih, karena tanpa ditanya pun mereka sudah pasti mau.

"Mau bangeeet!  Kakak mau yang gede ya, Ma.."

Tuh, saya bilang juga apa... Jawabnya selalu begitu.. ;D

**

Menyiapkan bekal untuk anak-anak sekolah, pasti sudah jadi rutinitas para ibu sehari-hari. Sebisa mungkin, anak  jangan jajan di sekolah. Selain nggak terjamin kebersihannya, kita juga nggak tau apa  aja kandungan yang terdapat di dalamnya. Tahu sendiri, hari gini, orang semakin banyak akal untuk mencari keuntungan tanpa peduli dampak yang ditimbulkannya. Padahal, kandungan gizi merupakan syarat penting yang sebaiknya ada di dalam porsi makan anak-anak. Apalagi untuk anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Pentingnya gizi yang masuk ke tubuh anak kita, memang menjadi faktor penentu tubuh kembangnya fisik mereka nanti. Ibaratnya sih, seperti berinvestasi di awal. Baik di masa kini, akan baik juga di masa depannya. Insya Allah.

Sejalan dengan pentingnya memperhatikan gizi untuk keluarga, So Good yang sudah hadir sejak tahun 1999, dengan logo berbentuk kotak dengan sentuhan warna biru tua dan hijau ini, terus berinovasi dan berkomitmen untuk selalu menghadirkan produk-produk berprotein berkualitas tinggi, yang kaya kandungan gizi, lezat, higienis, dan praktis dengan harga terjangkau.

Sekian lama ikut berperan dalam memenuhi kebutuhan gizi protein hewani keluarga Indonesia, di tahun 2018 ini, So Good membawa perubahan dalam penampilannya. Lebih baik, lebih segar dengan makna yang dalam. Nggak percaya? Sini, saya jelasin.. :)


LOGO BARU SO GOOD YANG SARAT MAKNA


Hadir sebagai narasumber dalam acara launching Logo Baru So Good, pada tanggal 27 Februari lalu, di The Hook - Jakarta Selatan, Bapak Soegiono selaku Head of Marketing & New Business Development dari PT. So Good Food, Bapak Andi Prasetyo selaku Head of Japfa Foundation, Maria Harfanti sebagai Duta Gizi Japfa Foundation dan Prof. Hardinsyah MS PhD- Ketua Umum PERGIZI Pangan Indonesia. 




Dalam acara yang serius tapi santai ini, saya dan teman-teman blogger berkesempatan untuk mengenal lebih jauh tentang So Good. Sekaligus mendapat ilmu bagaimana menyajikan menu dengan gizi yang seimbang.

Nah, menu seimbang inilah yang terdapat dalam logo baru So Good. Logo yang dulunya berbentuk kotak dengan sentuhan warna biru  tua dan hijau, kini dipertajam dengan lingkaran berwarna emas. Warna emas ini melambangkan TRUST. Lingkaran emas yang artinya, So Good selalu ingin menjaga kualitas dan terpercaya.



Lingkaran emas dan logo kotak So Good dibuat dengan background berwarna hijau yang segar. Benar-benar fresh dan natural. Warna hijau ini bermakna So Good ingin memberikan pembaharuan yang segar dan dinamis untuk setiap inovasi yang So Good ciptakan.


Di dalam logo berbentuk lingkaran emas, terdapat juga berbagai simbol-simbol yang merupakan sumber inspirasi bagi So Good dalam penciptaan produk-produknya. Ada simbol sumber protein berupa : ayam, daging, ikan, udang, dan telur. Semua protein ini sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk memenuhi gizi seimbang. Seperti yang kita ketahui bersama, So Good mengolah berbagai protein hewani ini dengan aneka jenis dan rasa yang lezat.

Selain simbol protein hewani, ada juga peralatan memasak dan topi Chef, maknanya : So Good ahli dalam memberikan pengalaman gizi kuliner protein hewani yang seimbang.

Simbol lainnya berupa wajah yang tersenyum dan jempol tangan, Ini menandakan rasa puas, senang dan bahagia dari para pelanggan karena So Good berhasil menghadirkan produk-produk berprotein yang berkualitas dan memiliki rasa yang lezat.

Hm, nggak cuma logo aja lho yang berwajah baru, di setiap kemasan So Good ada product story yang menjelaskan tentang manfaat produk bagi keluarga Indonesia. Selain itu, slogan So Good pun kini berubah. Dulu, slogan yang kita kenal adalah "So Good is Very Good" sekarang berganti menjadi - Lebih Baik So Good. Rasanya, lebih mudah diingat karena menggunakan bahasa Indonesia, ya..

Pokoknya, logo baru So Good ini betul-betul berisi banyak makna.




KUNJUNGAN DUTA GIZI JAPFA fOUNDATION KE PABRIK SO GOOD








Duta Gizi Japfa Foundation, Maria Harfanti juga berbagi cerita tentang kunjungannya ke pabrik So Good yang terletak di Cikupa - Tangerang. Dalam kesempatan ini, Maria Harfanti, ingin tau lebih jauh tentang proses apa aja yang dilakukan oleh So Good, untuk menghasilkan produk Chicken Nugget yang berkualitas dan tanpa pengawet. 

Dalam video kunjungannya, saya dan teman-teman jadi bisa ikut melihat, bahwa ayam-ayam yang disiapkan, adalah ayam-ayam pilihan, tanpa suntuk hormon, bebas formalin dan tanpa bahan pengawet. Proses produksinya juga sangat higienis dan dilakukan dengan pengawasan yang ketat.

Mengapa produk-produk So Good bisa awet lebih lama?



Ternyata, jawabnya adalah karena produk So Good Chicken Nugget dan sejenisnya, telah melalui proses pemasakan dengan suhu 170 derajat celsius. Proses pemasakan ini memakan waktu tidak kurang dari 3 menit, dan langsung dibekukan secara cepat dengan menggunakan IQF (Individual Quick Frozen). IQF ini untuk menjamin kesegaran,, kelezatan dan nutrisi yang terkandung di dalam produk So Good.

Setelah kunjungan Maria ke pabrik So Good, semua rasa penasarannya terjawab sudah. Duta Gizi Japfa Foundation ini, makin mantap untuk terus memilih So Good untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbangnya. Sebagai duta gizi, tentunya Maria memiliki tanggung jawab dalam mensosialisasikan pola hidup sehat dan pentingnya gizi seimbang kepada masyarakat.


Bicara soal gizi seimbang, khususnya gizi dari protein hewani, sebenarnya berapa sih kebutuhan asupan protein perhari yang ideal?

Nah, berikut ini penjelasan dari Prof. Hardinsyah MS PhD tentang estimasi kecukupan gizi perhari untuk keluarga Indonesia.


  • Kebutuhan protein 1.0-1.5 g/kg BB atau 35-72g/ anak sekolah & remaja/ hari
  • Kebutuhan protein hewani 7-15g/hari atau 1-2 porsi 960-120g)/hari
  • Protein untuk anak 1-8 tahun dianjurkan lebih tinggi dari yang dikonsumsi oleh orang dewasa.




Prof. Hardinsyah juga menjelaskan bahwa, protein hewani sangat penting bagi tubuh karena memiliki manfaat yang sangat banyak. Manfaat protein hewani menjaga pertumbuhan sel-sel organ tubuh dengan baik dan memperbaiki sel tubuh yang rusak, meningkatkan daya tahan tubuh, membentuk dan meningkatkan fungsi otak sehingga dapat membantu anak-anak berprestasi.

Untuk memilih produk protein hewani yang baik, pilihlah produk yang memenuhi standar utama, diolah dari daging segar, kemasan yang baik dan utuh. Perhatikan juga jaminan halal dari MUI dan lembaga yang berwenang.



Memilih produk protein yang baik untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga, tentu saja nggak bisa disepelekan ya.., sebagai ibu, kitalah yang bertanggung jawab. Jalankan pola hidup sehat dan menu gizi seimbang. Semoga generasi masa depan yang sedang kita besarkan saat ini, selalu tumbuh sehat, cerdas dan membanggakan. (Aamiin)




[*foto sebagian dari  dokumen So Good dan milik pribadi]